Magento vs OpenCart vs PrestaShop?

Magento vs OpenCart vs PrestaShopDari sekian banyak paket software eCommerce yang sudah saya bahas dalam blog ini, saya memperkecil pilihan menjadi Magento Commerce, OpenCart, dan PrestaShop untuk dipertimbangkan menjadi paket eCommerce yang saya rekomendasikan untuk menjalankan toko online kita. Ketiganya muncul ke permukaan karena fitur-fiturnya yang cukup lengkap, berevolusi secara konsisten, dan mengikuti tren perkembangan internet. Lalu pertanyaannya adalah mau pilih yang mana?

Saya memang sering ditanya "Software eCommerce mana yang terbaik?". Jawaban untuk pertanyaan tersebut tidaklah tunggal tapi mesti disesuaikan dengan tujuan, skenario, dan sumber daya dari masing-masing calon pedagang online. Magento Commerce sendiri tidak berada dalam satu level dengan OpenCart dan PrestaShop. Dengan kata lain target pasarnya berbeda. Sedangkan OpenCart dan PrestaShop berada dalam level yang sama, yang membuat persaingan keduanya cukup sengit.

Lainnya Tereliminasi, Kenapa?

Sebelum kita mendiskusikan lebih lanjut kira-kira mau memilih yang mana dari ketiganya, berikut saya sampaikan alasan kenapa paket-paket eCommerce lain yang sudah saya ulas di blog ini "tereliminasi" terlebih dahulu.

  • WordPress

    WordPress sangat bagus dipakai untuk publikasi melalui blog. Jika dipakai untuk ber-jualan online, WordPress hanya memenuhi fitur publikasinya. Sementara fitur-fitur lain seperti shopping cart dan checkout tidak terdapat dalam WordPress. Meskipun kita bisa menggunakan plug-in untuk menambahkan fungsi-fungsi ini, namun tidak optimal karena tidak dikembangkan secara bersama dengan WordPress sebagai satu kesatuan.

  • Quick.Cart

    Quick.Cart sebetulnya membuat perimbangan yang cukup bagus antara fungsi eCommerce dan fungsi CMS (Content Management System). Dengan perimbangan tersebut kita bisa mengisi konten produk dan berita secara berimbang dalam toko online kita. Namun, setidaknya ada dua kekurangan utama dari Quick.Cart: versi gratisnya tidak mendukung SEF (Search Engine Friendly) URL, dan menggunakan sistem berkas untuk menyimpan data.

    SEF URL adalah faktor penting dalam memasarkan sebuah toko online. Toko online pada satu tahap mesti terlibat dalam berjualan tautan atau link, yang mewakili produk yang dijual. Jika tautan kita banyak dikenal melalui search engine seperti Google dan Bing, atau tautan kita banyak di-referensi oleh situs-situs lain, niscaya banyak pelanggan baru berdatangan melalui search engine atau situs referal. Peran SEF URL di sini cukup penting untuk membuat tautan kita lebih ‘bersahabat’ dengan search engine dan lebih mudah di-refer oleh situs-situs lain.

    Penggunaan sistem berkas untuk menyimpan data berpengaruh kepada jumlah data yang bisa diproses dengan kecepatan akses ideal. Database seperti MySQL dibuat salah satunya untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh penyimpanan dengan sistem berkas. Dengan memilih sistem berkas, Quick.Cart memiliki masalah yang berkaitan dengan penggunaan sistem berkas untuk penyimpanan data.

  • CubeCart

    Alasan utama CubeCart tidak dipilih karena versi gratisnya jauh lebih inferior daripada versi berbayarnya, termasuk kelangkaan fitur SEF URL. Kelihatannya versi gratis CubeCart dipakai sebagai pemancing calon customer untuk mencoba CubeCart fitur berbayar yang lebih kaya fitur dan didukung oleh tim pengembang dari CubeCart.

  • osCommerce

    osCommerce versi terbaru (3.0a5) memang sudah mendukung fitur SEF URL. Namun, kelemahan utama osCommerce terletak pada tampilan yang tidak mudah dikonfigurasi dengan template. Untuk mengubah tampilan osCommerce, kita perlu mengganti beberapa berkas asli osCommerce dengan berkas hasil modifikasi kita sendiri.

    Lagi pula, versi terbaru (3.0a5) masih dalam tahap alpha, yang artinya masih dianggap belum stabil untuk digunakan ber-jualan online di server produksi.

  • Zen Cart

    Zen Cart mewarisi sebagian besar karakteristik osCommerce, karena Zen Cart dikembangkan dari osCommerce pada tahun 2003. Walaupun fitur-fiturnya melebihi osCommerce, namun sampai saat ini Zen Cart belum mendukung fitur SEF URL secara langsung. Lagipula konfigurasi awal Zen Cart menunjukkan layar dan fungsi-fungsi yang terlihat cukup kompleks untuk para pedagang online pemula.

Catatan: Sampai saat ini saya belum mengulas VirtueMart, sebuah software eCommerce lain yang cukup populer di Indonesia. Oleh karena itu, ulasan yang saya sampaikan di sini mengecualikan VirtueMart.

Pilih Magento Commerce Jika…

Magento Commerce, untuk saat ini saya nilai sebagai software eCommerce yang paling lengkap fiturnya dan fleksibel. Di samping itu, Magento Commerce juga didukung oleh Irubin Consulting/Varien, sebagai perusahaan internasional yang menyediakan layanan implementasi eCommerce dengan Magento Commerce, pada level enterprise. Dengan dukungan ini, perkembangan eCommerce pada tingkat enterprise bisa diserahkan kepada ahlinya.

Sebagai software eCommerce yang disiapkan untuk level enterprise, Magento Commerce memiliki requirement yang "agak berat". Jumlah ruang hard disk yang dibutuhkan, jumlah memori yang dipakai, dan kebutuhan CPU pada saat menjalankan Magento Commerce, di atas rata-rata software eCommerce lainnya. Hal ini bisa dianggap sebagai batasan untuk calon pedagang online yang budget-nya pas-pasan.

Magento Commerce akan sangat tepat kita pakai apabila kita mempunyai server sendiri, atau setidaknya kita memiliki VPS (Virtual Private Server) dimana kita punya kontrol terhadap sumber daya server. Menggunakan shared hosting memang memungkinkan, tetapi karena requirement Magento Commerce yang "agak berat", kita perlu mengkomunikasikan penggunaan Magento Commerce kepada penyedia layanan web hosting. Kita perlu menyampaikan segala resiko potensial dari penggunaan Magento Commerce, terutama penggunaan sumber daya server, agar tidak terjadi salah pengertian di kemudian hari.

Magento Commerce tergolong software eCommerce yang cukup kompleks dan perlu waktu untuk memahaminya. Jika latar belakang kita adalah IT, yang sedikit banyak tahu tentang server, software, apalagi bahasa pemrograman, Magento Commerce mungkin cukup menarik untuk dipelajari. Namun, apabila fokus kita memang hanya berjualan, kita perlu mempercayakan kepada orang lain yang memang ahli dalam implementasi Magento Commerce.

Gambar berikut ini menunjukkan halaman depan toko online yang dibuat dengan Magento Commerce:

Tampilan halaman depan toko online Magento Commerce

Magento Commerce juga cocok untuk membuat mall virtual. Dengan kemampuannya untuk membuat banyak toko online hanya dengan satu instalasi, Magento Commerce bisa digunakan untuk menjalankan banyak toko online yang tergabung dalam satu domain. Jadi mirip seperti mall, hanya saja bentuknya virtual, atau hanya ada di dunia maya, yang diwakili dengan nama domain dan sub domainnya.

OpenCart vs PrestaShop

OpenCart dan PrestaShop, keduanya memiliki fitur yang cukup lengkap. Keduanya tergolong ringan dan bisa di-instal tanpa kesulitan di lingkungan shared hosting. Keduanya cukup mudah dipelajari. Dan keduanya bersaing cukup ketat dalam memperebutkan pelanggan yang tertarik menggunakan software eCommerce open source yang gratis.

OpenCart dikembangkan oleh orang Inggris. Sedangkan PrestaShop dikembangkan di Perancis. Karakteristik orang Inggris yang kaku namun solid memang terlihat dalam OpenCart. Demikian pula karakteristik orang Perancis yang menekankan segi estetika tampak pada PrestaShop. Oleh karena itu, dari sisi tampilan PrestaShop terlihat lebih menarik dibandingkan dengan OpenCart.

Kedua gambar berikut ini menunjukkan halaman depan toko online yang dibuat dengan OpenCart dan PrestaShop. Gambar berikut ini menunjukkan halaman depan dari toko online OpenCart:

Tampilan halaman depan toko online OpenCart

Sedangkan gambar berikut ini menunjukkan halaman depan dari toko online PrestaShop:

Tampilan halaman depan toko online PrestaShop

Dari sisi fitur, PrestaShop juga masih sedikit lebih unggul dibandingkan dengan OpenCart. Fitur-fitur berikut ini, saat ini hanya ada dalam PrestaShop:

  • Produk pilihan (featured products)
  • Membedakan antara pemasok dan merek
  • Adanya pengelompokan pada atribut tambahan produk
  • Adanya tag produk
  • Adanya attachment produk (bisa untuk brosur elektronik)
  • Adanya fitur untuk me-retur order
  • Adanya fitur bingkisan hadiah

Jika dari sisi fitur dan tampilan terlihat PrestaShop unggul, artinya pilihan mesti jatuh ke PrestaShop dibandingkan OpenCart. Namun sebelum memutuskan untuk memilih PrestaShop, terlebih dahulu akan saya ulas fitur SEF URL pada keduanya.

SEF URL pada OpenCart dan PrestaShop

OpenCart memberikan kebebasan kepada kita sebagai pemilik toko online untuk mendefinisikan SEF URL sesuai keinginan. Misalnya, produk kita bernama Ipod Nano, maka kita bisa memiliki SEF URL yang sama dengan nama produk, yaitu ipod-nano. Namun kita juga bebas mendefinisikan URL produk kita dengan kata-kata lain yang mungkin bisa menambah makna URL produk, misalnya pemutar-musik-bagus-murah-ipod-nano.

PrestaShop juga memberikan kebebasan kepada kita untuk menentukan SEF URL produk berdasarkan nama produk. Tetapi, SEF URL harus mengandung ID dari produk. Jadi misalnya produk Ipod Nano kita ID-nya adalah 1, maka SEF URL-nya adalah kategori/1-ipod-nano.html, dimana kategori adalah SEF URL untuk kategori dimana produk tersebut ditempatkan.

Kalau membandingkan kedua cara penentuan SEF URL antara OpenCart dan PrestaShop, saya lebih memilih cara yang dilakukan oleh OpenCart. Hal ini karena cara tersebut lebih fleksibel.

Namun, baik OpenCart maupun PrestaShop memiliki problem duplikasi konten (duplicate content). Duplikasi konten sebaiknya dihindari karena akan berpengaruh terhadap output SEO (Search Engine Optimization) dari tautan produk.

Problem duplikasi konten ini paling parah terjadi pada OpenCart. Sebuah produk bisa memiliki tautan yang berbeda, tergantung dari mana produk tersebut diakses. Konten yang sama dengan tautan yang berbeda-beda menimbulkan problem duplikasi konten. Misalnya produk Ipod Nano diakses dari halaman depan, tautan untuk produk tersebut adalah:

/ipod-nano

Namun, apabila Ipod Nano kita masukkan dalam kategori MP3 Players, kemudian kita mengakses Ipod Nano dari kategori tersebut, maka tautan untuk produk tersebut menjadi:

/mp3-players/ipod-nano

Berikutnya, produk Ipod Nano dibuat oleh pabrikan Apple. Dalam OpenCart, kita juga bisa mengakses produk tersebut dari pabrikannya. Dalam kasus ini, tautan untuk produk tersebut akan menjadi:

/apple/ipod-nano

Nah, dari skenario di atas terlihat untuk satu produk terdapat tiga tautan yang berbeda:

  • /ipod-nano
  • /mp3-players/ipod-nano
  • /apple/ipod-nano

Sedangkan problem duplikasi konten yang mungkin terjadi pada PrestaShop tidak berasal dari dalam, melainkan potensial berasal dari luar situs. Hal ini karena nama kategori dan produk pada SEF URL PrestaShop bisa diabaikan sama sekali. Yang terpenting pada SEF URL PrestaShop adalah ID dari produk.

Misalnya, SEF URL yang dihasilkan oleh PrestaShop adalah:

/mp3-players/1-ipod-nano.html

Kita bisa mengganti nama kategori dan produk, dan tetap mendapatkan halaman produk yang sama, misalnya:

/mobil/1-toyota-avanza.html

Terlihat bahwa nama kategori dan produk tidak ada hubungan sama sekali dengan nama kategori dan produk yang didefinisikan pertama kali atau secara internal.

Namun secara internal, problem duplikasi konten dengan pola seperti ini tidak terjadi. Artinya problem ini hanya mungkin terjadi kalau ada situs eksternal yang mereferensi sebuah produk dalam toko online kita dan memiliki kesalahan tulis baik pada kategori maupun nama produk.

Kesimpulan

Memilih dan menentukan software eCommerce yang tepat mesti mempertimbangkan tujuan, skenario, dan sumber daya yang kita miliki. Dari berbagai software eCommerce yang sudah saya ulas dalam blog ini, muncul tiga kandidat yang layak untuk dipertimbangkan, yaitu Magento Commerce, OpenCart, dan PrestaShop. Magento Commerce memiliki fitur terlengkap dan fleksibilitas yang tinggi, namun membutuhkan sumber daya server dan manusia yang juga tinggi. Sedangkan PrestaShop masih lebih unggul dibandingkan OpenCart dalam hal fitur dan tampilan. Namun, fleksibilitas OpenCart dalam menentukan SEF URL, membuatnya memiliki keunggulan tersendiri. Baik OpenCart maupun PrestaShop memiliki masalah duplikasi konten yang perlu dicarikan solusinya sebelum kita memutuskan untuk menggunakannya.

Posting Terkait

Magento: Data Contoh
 
OpenCart untuk Jualan Online
 
Sharing Implementasi Magento
 
PrestaShop untuk Jualan Online
 
OpenCart: 404 Handler
 
Magento Commerce untuk Jualan Online
 
Posting ini masuk kategori Magento, OpenCart, PrestaShop, e-Commerce dan tag , , .

58 Komentar terhadap Magento vs OpenCart vs PrestaShop?

  1. Supri berkata:

    Terima Kasih sudah berkunjung ke Blog saya http://supriliwa.wordpress.com .

  2. rochman berkata:

    Tulisannya sangat bagus, seperti rubrik di majalah komputer. Sayangnya saya sendiri mungkin terlalu awam dengan materi-materi berat seperti ini. Salam kenal

  3. kejujurancinta berkata:

    hmmmm……
    saya ga gitu ngerti mas

    makasih ya uda berkunjung ke blog saya..

  4. sambaltomat berkata:

    kunjungan balik mas,,,
    owh sebelumnya saya pernah juga coba2 osCommerce ama Prestashop… (nyobain aja sih,,, :D )
    namun memang seperti yang mas bilang agak susah memang klo mau mengkustomisasi osCommerce,,, hehehe,,, :D cuma klo dibandingin ama Prestashop jelas tampilannya udah keren,,,, gak perlu di kustom lagi…. hehehehe…
    yang lainnya blum tau deh… hehehe….

  5. Yudistira berkata:

    Hebat… ulasan yang sangat jelas… makasih banyak ya Pak… pilihan saya untuk mesin toko online makin mengerucut… sekali lagi terima kasih :)

  6. susi berkata:

    virtuemart gimana ? ngk dibahas ya…..

    • Agus Suhanto berkata:

      masih banyak yg belum sempat saya bahas mbak susi
      dan VirtuaMart pasti saya review in the future
      bulan Oktober ini fokusnya pada implementasi,
      agar seimbang antara teori dan praktek

  7. Budi berkata:

    Saya pikir Magento lah yang terbaik karena memang fitur2nya sangat lengkap dan cocok untuk pebisnis online. Senang rasanya bisa bertemu dengan Mas Suhanto ini sebagai ‘pengoprek’ Magento – gpp yah Mas, aku kasih julukan ‘pengoprek’.
    Saya ingin belajar banyak nih buat memahami Magento, semoga berkenan memberikan tips, tricks, dan sharing ilmunya. Saya ingin coba setting multiple stores nya, waktu dan tenaga masih belum sempat juga. Yang ingin saya tanyakan, itu step by step guidesnya untuk localhost komputer pakai LAMP (bener yah, bukan orang IT soalnya saya), kalau pakai AppServ sama ga yah… soalnya sementara pakai AppServ untuk di komputer pribadi.

    Thanks 4 Sharing

    • Agus Suhanto berkata:

      memang cukup banyak metode yg dipakai untuk run Magento di komputer lokal. Ada XAMPP, WAMPP, dll.
      Saya memilih metode LAMP agar kondisi server bisa diduplikasi langsung di komputer lokal.
      Kemiripan kondisi server dan kondisi lokal akan mempermudah kita melakukan banyak hal.

  8. andrie berkata:

    Makasih Mas atas pemahamannya.. :D

  9. Agus Suhanto berkata:

    Tulisan pilihan saya dari rekan-rekan blogger yg (mungkin) terkait dengan posting ini:

    » iPod nano baru dengan Video Camera
    » Ini Dia, iPod Nano Terbaru Plus Video Camera
    » Virtuemart

  10. frxs berkata:

    waaa…kayaknya prestashop…lumayan familiar soalnya

  11. Bambang Puji berkata:

    Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya mas.

    Nice info mas, ulasannya sangat informatif. Prestastashop saya sudah pernah mencobanya tapi kok kayaknya sulit dari sisi maintenance ya? dari sisi frontpage nya sudah bagus, namun backofficenya yg membingungkan..hehe

    Kalo Opencart saya belum pernah, kayaknya boleh dicoba nih..

  12. Eko Rakhmat berkata:

    Ulasan yang bagus mas…. juga sangat membantu….
    ditunggu ulasan2 yang lain…

    nuwun
    ery

  13. Sundi taniwan berkata:

    bagus2 saya prefer presta shop
    baru saja mau coba online shop sendiri ;) trima kasi reviewnya

  14. hm tambunan berkata:

    Good news…, thanks

  15. kacier berkata:

    word press memang mantaaaaaaaffffffffffffffffffff

  16. Kelix berkata:

    terima kasih atas kunjungannya

  17. Agus Suhanto berkata:

    Tulisan pilihan saya dari rekan-rekan blogger yg (mungkin) berkaitan dengan posting ini:

    » Teknologi E–Commerce
    » Mengapa Pilih Program Reseller?
    » iPod Seukuran Kelingking

  18. Budh berkata:

    Sebuah perbandingan yang sangat bagus tanpa memihak kesatu software yang dibandingkan, satu masukkan yang sangat berguna untuk kita-kita yang punya usaha toko online.
    Sekedar membandingkan dengan virtuemart, saya kok lebih suka opencart atau prestashop, karena menurut saya cara opencart dan prestashop dalam menampilkan data barang lebih luwes dari pada virtuemart (dan joomla)….sorry IMHO

  19. ramu berkata:

    saya baru memulia menggunakan prestashop….dan say ingin menambhkan berita pada prestashop tersebut…..apakah ada plugin untuk berita di prestashop….atau ada trik lain…..mohon pencerahannya….thanks

  20. Sutan Majo Kayo berkata:

    Dulu mungkin Magento memang harus dihostingkan di VPS, tapi sekarang sudah ada pilihan hosting semi dedicated server, mirip spt shared hosting tapi dengan jumlah client yang terbatas. Magento sudah disupport di RHI (www.idresellerhosting.com), dan jangan kuatir dengan resource, server kami memang ditujukan untuk power user :)

  21. Mantap Mas Agus! Informasinya sangat bermanfaat! Semoga tambah sukses ya.. salam

  22. Bri berkata:

    hmm.. memang tidak ada yg sempurna. tapi sepertinya mas suhanto paling suka sama OpenCart ni?… katalognya aja pake OpenCart

  23. carasta berkata:

    mantep…
    sy lagi nyari perbandingan OS-commerce soaLe,,

    tengyu,,, :-)

  24. micokelana berkata:

    wah apik sekali pembahasan ecommerce engine di sini pak, terima kasih nih sudah memberikan pencerahan dan opini mengenai magento, presta dll.

    Memang segala sesuatu meski dilihat dan ditimbang sesuai dengan kebutuhan dulu baru milih.

    Tapi klo saya sendiri pak, untuk saat ini mungkin masih memilih Virtuemart+Joomla dengan alasan masih familiar dengan joomlanya pak…he..he…

    • Agus Suhanto berkata:

      Joomla + VirtuaMart juga pilihan yang bagus… apa pun pilihannya yang penting jualannya laku keras :)

  25. Ilhamuddin berkata:

    Thanks mas atas informasinya…..

  26. budi berkata:

    Setelah bersusah payah akhirnya berhasil juga membangun 1 online store…. saya pilih prestashop. trima kasih ulasannya.

  27. azzaam berkata:

    Saya lihat dari dari demo tampilan, semua paket ini memiliki tampilan yang default atau standart, semuanya serupa. Kira-kira ada web khusus yang membagikan secara gratis templatenya gak mas?

    Utamanya, magento, opencart dan prestashop..

    • Agus Suhanto berkata:

      Saya yakin banyak di internet Pak, tinggal konsultasi sama mbah Google aja. Tapi, sejauh yang saya dapatkan, template gratis biasanya nggak sebagus template yang komersil…

  28. Azhar berkata:

    Menarik mas artikelnya, namun mungkin reviewnya makin lengkap jika bagian backend diulas juga, karena disitulah pemilik toko bakal banyak meluangkan waktu, terutama untuk menambahkan produk, atribut (warna, ukuran, dll.), payment gateway, dll.

    • Agus Suhanto berkata:

      Terimakasih atas comment dan feedback-nya. Rencananya akan saya tuangkan dalam sebuah buku.

  29. dudu berkata:

    Yang pernah dipake sih baru Prestashop sama Virtuemart, dulu pernah pake Magento tapi malah bingung karena terlalu besar cakupannya (menurut saya)

    Nice, thx.. Udah lama ga mainan e-commerce, kangen juga :)

    • Agus Suhanto berkata:

      Bener Pak, Magento memang lebih kompleks, kalau kita nggak sabar kita bakal cepet frustasi makai Magento. Nggak mudah ngubah tampilan Magento, nggak mudah nambah module Magento memang.

  30. Argado berkata:

    Wah keren nih! Lumayan buat nambah referensi!

  31. Noly berkata:

    Thanx Mas buat semua infonya, sangat membantu saya yg masih TK dibidang ini. Mantapz !!

  32. hamba Tuhan berkata:

    mas, minta modul JNE untuk prestashop dunk..

    • Agus Suhanto berkata:

      Saya belum punya modul tersebut mas, sabar… mungkin beberapa waktu ke depan saya mulai lebih serius ke PrestaShop juga.

  33. hamba Tuhan berkata:

    ditunggu mas.. hehehhe
    sukses selalu ya…:)

  34. Joko berkata:

    he he saya memilih prestashop juga atas referensi ulasan ini, Alhamdulillah sudah jadi htt://annisa-store.com, makasih mas

  35. Yoni berkata:

    Wah bagus sekali ulasannya pak..
    Saya sendiri masih coba “maen-maen” dengan opencart dan prestashop di server lokal.. Sambil belajar juga.

    Untungnya diblog ini saya bisa menemukan “guru yang tepat”. hehe.. maklum, anak SMA

    Ditungu materi-materi yang lainnya ya pak guru :)

  36. PesanLogo berkata:

    menarik sekali, bisa jadi pertimbangan untuk jualan online. thx

  37. Sudarsono berkata:

    Thaks mas atas review nya….
    saya lagi pengen menggabungkan dua cms joomla dan magento
    .
    karena fitur dari virtuemart pada joomla tidak bisa sefliksible magento mungkin pilihan mengbridge keduanya akan sangat bagus.

  38. omagus berkata:

    saya memakai opencart karena lebih simpel, maunanya gimana caranya mengatasi doble content url pada opencart yah..!??

    • Agus Suhanto berkata:

      Oh, jangan khawatir. OpenCart versi 1.4.8B sudah come up dengan solusi canonical URL dengan menambahkan link rel=”canonical”. Jadi duplicate kontent-nya masih tetap ada, tetapi dengan adanya link tersebut, OpenCart memberi tahu search engine bahwa semua duplicate URL akan canonical ke satu URL tertentu. Coba aja klik ke http://opencart.web.id/demo/ipod_classic dan http://opencart.web.id/demo/apple/ipod_classic. Kedunya duplicate. Tapi kalau di view source, akan ada satu canonical URL.

    • omagus berkata:

      ya memang, tapi kadang jadi nggak nyaman ketika ada url barang yang seharusnya tidak dari kategori barang itu sendiri

    • Agus Suhanto berkata:

      Di OpenCart, duplikasi URL memang cukup banyak: URL produk secara langsung (tanpa pengkategorian), URL berdasarkan kategori, URL berdasarkan manufacturer, URL dari hasil pencarian. Paling tidak ada 4 URL ke sebuah produk:

      /produk
      /category/produk
      /manufacturer/produk
      /produk?keyword=mykeyword&category=1

      Solusi SEO di OpenCart menjadi canonical URL ke /produk.

      Tapi duplikasi konten juga terjadi di software e-commerce lain termasuk Magento. Dan solusinya juga sama: pakai Yoast canonical URL, menggunakan pendekatan canonical URL yg sama.

  39. Eko Prayitno berkata:

    wah.. thanks banget bang infonya!
    saya juga pakai prestashop untuk toko online saya. untuk fitur dan tampilannya sih udah bagus. hanya saja butuh beberapa modul-modul yang mempercantik tampilan toko online kita, seperti modul testimonial, modul pemutar musik, dll

    http://www.makassarelektro.com

    • Agus Suhanto berkata:

      Modul testimonial ini memang sepertinya penting dan banyak yang meminta. Memang sangat penting mengingat web saat ini sudah conversational, jadi mesti ada bukti-bukti dari testimoni orang lain untuk meyakinkan.

  40. angzt berkata:

    ada postingan yang sama persis mas, coba cek
    http://ilmuit.maniaxpc.com/berita-152-magento-vs-opencart-vs-prestashop.html
    apa memang saling terkait? kok tidak disebutkan penulisnya?

    • Agus Suhanto berkata:

      Cukup banyak website yg menyalin dr suhanto.com. Ada yg menyebutkan sumbernya ada yg tidak. Wajar, di dunia internet hal tsb sering terjadi, yg penting authority-nya ada di mana :)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Anda bisa menggunakan tag dan atribut HTML berikut ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Investasi Emas
trusmi.com
renang.com
opencart.web.id
wpreferral.com

Komentar Terkini