Agus Suhanto

the weblog

Hot Offering Telkomsel Flash

clock 14 Juni 2008 8:06 oleh author Agus Suhanto

Gebrakan Telkomsel flash lewat hot offering paket unlimited-nya sungguh menarik. Dengan kondisi saat ini dimana koneksi internet lewat GPRS dinilai masih sangat mahal, penawaran Telkomsel tersebut bisa digolongkan sebagai 'An offer that I cannot refuse'. Hanya dengan 125rb (+PPN) per bulan dan sebuah modem GPRS/3G/HSDPA, kita bisa mendapatkan koneksi internet yang virtually tidak terbatas dengan kecepatan sampai 256 kbps per detik.

Saya pun tertarik dan mendaftar. Saya yang tidak punya kartu Halo mendadak merasa harus melakukan registrasi kartu Halo. Registrasi pun saya lakukan di Gerai Halo mal Ambassador Jl Prof Dr Satrio Jakarta. Gerai Halo saya jumpai di lantai 3 mal tersebut (asumsi lantai dasar adalah lantai 1). Sebagai kartu pasca bayar, proses registrasi mesti diikuti dengan proses verifikasi sebalum kartu Halo bisa diaktifkan. Kurang lebih memakan waktu 3 hari sampai kartu Halo dikirimkan ke alamat saya dan bisa dipakai.

Begitu kartu Halo aktif, tidak berarti paket unlimited bisa dipakai. Saya mesti datang ke Grapari Telkomsel BSD untuk memilih dari sekian banyak opsi yang ditawarkan paket tersebut dan mengaktifkannya. Perlu konfirmasi sampai dengan 1x24 jam dari waktu registrasi paket sampai adanya pemberitahuan lewat SMS bahwa paket tersebut bisa dipakai. Setelah semuanya selesai akhirnya saya pun bisa mulai mencoba Telkomsel flash paket unlimited.

Sebelumnya saya adalah pelanggan paket Mega Data Xplor dari XL. Terpaksa untuk sementara saya meninggalkan paket Mega Data Xplor karena masih dirasa mahal apabila dibandingkan dengan tawaran Telkomsel. Saya yakin dengan berjalannya waktu dan persaingan yang semakin tajam, XL pun tidak akan mau kehilangan pelanggannya dan menyediakan tawaran yang sama.

Modem yang saya pakai adalah HP Sony Ericsson K618i yang sudah mengenali jaringan 3G. Karena lokasi saya yang dekat dengan salah satu divisi XL, jaringan 3G XL di rumah saya sangat kuat, sehingga dalam melakukan koneksi dengan XL, kecepatan yang didapatkan cukup lumayan. Sedangkan untuk sinyal Telkomsel yang tertangkap jelas adalah GPRS. Jadi, walaupun paket yang ditawarkan Telkomsel sudah memiliki kemampuan sampai 3.5G, tapi saya hanya bisa menggunakan GPRS.

Setelah satu hari melakukan percobaan, kecepatan rata-rata yang saya dapatkan dari GPRS Telkomsel adalah: download speed sekitar 5 s/d 7 KB/s. Sedangkan upload speed sekitar 1 s/d 2 KB/s. Walaupun masih lebih lambat dari 3G XL yang selama ini saya pakai, so far saya rasa masih acceptable. Melihat animo masyarkat yang begitu besar dalam menganggapi paket Telkomsel ini, besar kemungkinan dengan kapasitas jaringan yang sama, kecepatan download/upload setiap koneksi bakal makin rendah.

Dengan paket unlimited, setidaknya saya tidak perlu khawatir adanya program yang berjalan secara tidak kita sadari melakukan download atau update aplikasi. Misalnya Windows Update, Adobe Acrobat update, dll. Pada saat saya menggunakan paket Mega Data Xplor yang memiliki batasan download tertentu, saya selalu rajin memonitor berapa jumlah data yang sudah di download. Namun sejak pindah ke paket unlimited dari Telkomsel, saya tidal lagi merasa perlu untuk melakukan monitoring. Dan sekarang saya pun bisa membiarkan semua anggota keluarga untuk melakukan koneksi internet kapan pun pada saat dibutuhkan tanpa perlu dibatasi.

Harapan saya gebrakan Telkomsel ini segera diikuti oleh operator-operator lain, terutama XL. Saya terlebih dahulu telah menjadi pelanggan XL dan tahu bahwa pelayanan XL cukup bagus, apalagi sinyal 3G dan HSDPA XL terpancar dengan kuat ke rumah saya. Apabila XL mampu menyediakan tawaran yang sama, besar kemungkinan saya akan kembali lagi ke XL.

Jadilah penilai pertama!

  • Saat ini 0/5 bintang
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5


Pengalaman Membuka Rekening di Commonwealth Bank, Mandiri, dan BNI

clock 13 Juni 2008 10:43 oleh author Agus Suhanto

Seberapa cepatkah pelayanan tiga bank: Commonwealth, Mandiri, dan BNI dalam melayanai nasabah membuka rekening baru? Berikut pengalaman saya membuka rekening di ketiga lembaga keuangan tersebut.

Commonwealth Bank

ATM dan token internet banking Commonwealth Bank

Sejauh pengetahuan dan ingatan saya keberadaan Commonwealth Bank relatif baru di Indonesia. Kantor cabangnya pun saat ini boleh dibilang tidak terlalu banyak. Kantor pusatnya saat ini ada di Wisma Metropolitan 2, Jl Sudirman Jakarta Pusat.

Saya mengetahui keberadaan Commonwealth Bank pada saat di kantor saya diadakan banking fair. Beberapa lembaga bank diundang dalam acara tersebut, termasuk Commonwealth Bank. Saya tertarik kepada bank ini terutama karena produk-produknya yang boleh dibilang tidak konvensional. Daya tarik utama yang ditawarkan adalah kemampuan sistem transaksi online bank ini dalam membeli produk-produk reksadana dari para MI (manajer investasi) yang bekerja sama dengan Commonwealth Bank.

Singkat cerita akhirnya saya pun mendaftar untuk membuka rekening di Commonwealth langsung di kantor saya melalui petugas relationship manager yang ditugaskan di sana. Sama seperti proses membuka rekening pada bank-bank lain, beberapa form perlu saya isi lengkap. Beberapa syarat dan persetujuan pun perlu saya tanda tangani dengan kelengkapan tiga buah materai yang harus saya sediakan. Hari dimana saya mendaftar adalah Jumat, sekitar jam 15-an WIB.

Hari selasa minggu berikutnya saya ditelpon oleh petugas yang sama yang mengabarkan bahwa rekeningnya sudah selesai diproses dan saya boleh datang ke kantor mereka untuk mengambil token internet banking.  Keesokan harinya, Rabu, saya pun datang ke kantor Commonwealth Bank di Wisma Metropolitan 2. Di sana saya berhadapan dengan petugas customer service, yang langsung menyediakan token internet banking dan mengajari cara menggunakannya. Tidak seperti bank-bank lain, Commonwealth Bank tidak menyediakan buku rekening (sebuah cara pandang yang menurut saya sudah tidak konvensional lagi).

Dengan token internet banking, saya pun bisa melakukan transaksi Commonwealth Bank secara online melalui e-banking mereka. Namun, ternyata kelengkapan konvensional lain berupa ATM pun dikirimkan pada hari berikutnya, Kamis. ATM-nya pun sangat professional dan elegan. Nomor ATM dan nama di ATM dicetak dengan huruf timbul yang dilapisi warna keemasan.

Total selesainya proses pembukaan rekening di Commonwealth Bank beserta semua kelengkapannya adalah 5 (lima) kerja. Total jumlah kunjungan ke kantor cabang untuk menyelesaikan proses ini adalah 1 (kali) kali. Biaya yang saya keluarkan selain untuk materai adalah 0.

Bank Mandiri

ATM dan token internet banking Bank Mandiri

Bank Mandiri juga menjadi salah satu peserta banking fair yang berlangsung di kantor saya. Namun, pada saat berlangsungnya banking fair, saya tidak melakukan pembukaan account karena produk-produk bank Mandiri bagi saya tidak ada yang menarik. Namun, minggu berikutnya, karena satu alasan tertentu akhirnya saya memutuskan untuk membuka rekening di bank Mandiri.

Sebagai bank yang merupakan penggabungan bank-bank swasta sebelum krisis ekonomi, kantor bank Mandiri boleh dibilang berada di mana-mana. Dengan pertimbangan tertentu, akhirnya saya membuka rekening bank Mandiri di cabang Menara Duta, jl HR Rasuna Said Kuningan (dekat hotel Four Seasons).

Hari Jumat saya membuka rekening di bank Mandiri Menara Duta Kuningan. Saya memperoleh buku rekening dan disuruh menunggu sampai hari Senin minggu depannya untuk mengambil  PIN Mandiri (token internet banking), dan menunggu hari Jumat mingu depannya untuk mengambil ATM. Kondisi dimana saya mengajukan aplikasi ke bank Mandiri sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta dilengkapi dengan surat keterangan yang berasal dari HRD kantor saya. Kondisi ini sama dengan kondisi yang saya berikan kepada Commonwealth Bank.

Hari Senin saya pun telpon ke petugas customer service yang sama dengan pada saat saya melakukan pembukaan rekening. Saya dikonfirmasikan bahwa PIN Mandiri bisa diambil. Tanpa ragu saya pun segera menuju ke kantor Mandiri Menara Duta Kuningan. Sampai di sana saya dilayani oleh petugas customer service yang berbeda. Dan betapa terkejutnya saya mendapat penjelasan bahwa internet banking hanya bisa diambil setelah saya melakukan pendaftaran melalui ATM. Padahal ATM-nya belum jadi dan mesti menunggu sampai hari Jumat. Saya pun pulang dengan tangan hampa dan perasaan kecewa.

Sampai hari Jumat saya telpon lagi ke Mandiri Menara Duta Kuningan. Saya dikonfirmasi bahwa PIN-nya sudah jadi tapi ATM-nya belum dikirim. Saya disuruh untuk telpon lagi hari Senin atau Selasa minggu depannya. Saya pun tidak punya pilihan lain selain menunggu. Hari Senin minggu depannya saya konfirmasikan lagi, dan jawabannya masih sama: ATM-nya belum ada.

Keesokan harinya saya tidak menelpon. Saya memilih ditelpon atau menunggu sampai hari Rabu untuk memastikan bahwa ATM saya sudah benar-benar ada. Sampai pada hari Rabu, saya juga lah yang pada akhirnya berinisiatif menelpon mereka lagi untuk melakukan konfirmasi. Padahal menurut saya dengan tidak terpenuhinya beberapa janji mereka sebelumnya harusnya mereka lah yang mengabari saya tanpa saya minta.

Beruntung hari Rabu ATM dan PIN Mandiri-nya sudah jadi. Saya pun mengunjungi Mandiri Menara Duta untuk ketiga kalinya. Akhirnya saya mendapatkan ATM sekaligus PIN Mandiri. Bentuk ATM-nya mengecewakan. Huruf pada nomor ATM dan nama bukanlah huruf timbul, melainkan huruf cetakan biasa yang terkesan sedikit tenggelam.

Total selesainya proses pembukaan rekening di Bank Mandiri beserta semua kelengkapannya adalah 9 (sembilan) hari kerja. Total jumlah kunjungan ke kantor cabang untuk menyelesaikan proses ini adalah 3 (tiga) kali. Biaya yang saya keluarkan selain materai adalah Rp 30rb (10rb ATM dan 20rb PIN Mandiri).

Bank BNI

ATM Bank BNI

Bank BNI bukanlah salah satu peserta banking fair yang diadakan di kantor saya. Saya mengajukan aplikasi pembukaan rekening di BNI Tebet di Setiabudi Atrium membawa kondisi yang sama dengan kondisi yang saya berikan kepada Commonwealth Bank dan Mandiri.

Saya datang ke kantor BNI Tebet pada hari Senin. Pada hari itu juga rekening bisa dibuka dan buku tabungan bisa dibawa pulang. Saya dijanjikan untuk bisa mengambil ATM 10 hari kerja setelah pembukaan rekening. Sedangkan BNI e-Secure (token internet banking BNI) bisa diambil 10 hari kerja setelah melakukan pendaftaran di website bank BNI, yang bisa dilakuka setelah ATM jadi).

Sepuluh hari berikutnya saya pun dikonfirmasi oleh petugas customer service BNI Tebet bahwa ATM-nya sudah jadi. Saya pun mendatangi kantor cabang BNI Tebet untuk mengambil ATM. Sama dengan ATM Mandiri, ATM BNI juga tidak dicetak dengan huruf timbul, hanya huruf cetak biasa. Dengan senang hati petugas customer service membimbing saya bagaimana cara menggunakan ATM tersebut pada sebuah mesin ATM yang terdapat di depan kantor mereka. Saya pun dikasih tahu bagaimana cara mendaftar internet banking melalui website BNI.

Sesampai di rumah saya pun mendaftar internet banking BNI, dan sukses. Hanya saja ketika saya mencoba untuk melakukan registrasi e-secure muncul pesan: Mohon maaf, fasilitas ini untuk saat ini belum dapat digunakan. Saya pun menelpon call center BNI dan tidak mendapatkan penjelasan memuaskan kenapa fasilitas tersebut belum dapat digunakan. Petugas hanya memberikan penjelasan bahwa saya akan dikonfirmasi melalui email kapan fasilitas tersebut bisa saya gunakan. Sampai tulisan ini saya publish, saya belum bisa melakukanpendaftaran e-secure BNI.

Total selesainya proses pembukaan rekening di Bank BNI beserta semua kelengkapannya (minus internet banking) adalah 10 (sepuluh) hari kerja. Total jumlah kunjungan ke kantor cabang untuk menyelesaikan proses ini adalah 2 (dua) kali. Biaya yang saya keluarkan selain materai adalah Rp 0.

Pesan Error dari BNI Internet Banking

Mana yang Terbaik?

Menurut saya, yang pantas saya berikan bintang 5 (lima) adalah Commonwealth Bank. Bank Mandiri menyusul di tempat kedua dengan cukup 2 (dua) bintang saja, dan bank BNI di tempat terakhir dengan 1 (satu) bintang.

Jadilah penilai pertama!

  • Saat ini 0/5 bintang
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5


Gajah Mada, Madakaripura Hamuki Moksa

clock 29 Mei 2008 1:26 oleh author Agus Suhanto

Novel terakhir seri Gajah Mada karya Langit Kresna Haryadi yang berjudul Madakaripura Hamukti Moksa ini bercerita seputar kejatuhan Gajah Mada dari kekuasaannya karena kesalahan langkahnya dalam menangani peristiwa bubat. Langkah yang menurut banyak orang Majapahit sendiri merupakan sebuah kesalahan, akhirnya mendorong prabu Hayam Wuruk dan keluarganya untuk mencopot jabatan Gajah Mada dari mahapatih yang selama ini disandangnya.

Gajah Mada memiliki kekuasaan yang sangat besar, bahkan melebihi kekuasaan sang prabu sendiri. Boleh dikata jalannya roda pemerintahan berada di bawah kendali Gajah Mada. Sedangkan sang prabu hanya duduk manis di atas dampar dan menerima laporan dan hasilnya saja. Langkah pencopotan Gajah Mada tentunya bisa menimbulkan gejolak politik yang sangat besar yang bahkan bisa menimbulkan adanya perang.

Perang saudara antara prajurit Majapahit yang mendukung dan menentang Gajah Mada hampir terjadi setelah peristiwa bubat. Penentang Gajah Mada berasal dari orang-orang yang marah akibat kehendak rajanya untuk segera memiliki permaisuri gagal, bahkan calon permaisuri - putri Sunda Galuh dan keluarganya - akhirnya dibantai beserta seluruh pengiringnya di lapangan bubat. Sedangkan pendukung Gajah Mada kebanyakan berasal dari pasukan dan orang-orang yang selama ini dengan setia berada di belakangnya.

Gajah Mada sendiri memandang peristiwa bubat bukanlah kesalahan dirinya, dan bukan pula kesalahan Majapahit. Gajah Mada mengungkapkan bahwa selama ini sikap dan pandangan Majapahit terhadap kerajaan-kerajaan lain yang tersebar di seluruh penjuru nusantara sudah jelas. Majapahit menempatkan diri sebagai pemimpin dan pengayom wilayah nusantara, dan kerajaan lain harus satu kata dengan Majapahit. Dengan kata lain kerajaan-kerajaan lain harus tunduk kepada Majapahit. Sikap Majapahit tersebut tidak boleh dibeda-bedakan, pun terhadap dua kerajaan Sunda yang letaknya di sebelah barat pulau Jawa.

Pandangan Gajah Mada yang demikian tidak sejalan dengan sang prabu dan keluarganya. Gajah Mada lebih memandang tunduknya dua kerajaan Sunda di wilayah barat tersebut mesti diberlakukan sama dengan tunduknya kerajaan-kerajaan lain, kalau perlu dengan kekuatan militer. Sedangkan sang prabu dan keluarga lebih memilih jalan damai. Jalan damai tersebut salah satunya adalah dengan berbesanan dengan keluarga kerajaan Sunda Galuh.

Pandangan keras Gajah Mada berujung pada kesalahan pengelolaan keadaan sehingga terjadi perang bubat. Raja Sunda Galuh dan seluruh pengiringnya tewas dibantai di lapangan bubat, termasuk calon permaisuri sang prabu.

Gajah Mada yang kemudian dicopot dari jabatan mahapatih menjadi orang biasa, akhirnya memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di sebuah tempat untuk bertapa dan mawas diri. Tempat pertapaan Gajah Mada tersebut terletak di kaki gunung Bromo, di sebuah wilayah yang disebut Sapih. Sampai saat ini, tempat tersebut lebih terkenal dengan sebutan Madakaripura.

Peristiwa bubat tidak menyebabkan kerajaan Sunda Galuh merasa perlu untuk membangun kekuatan militer dan menyerang kerajaan Majapahit. Orang-orang Sunda Galuh cinta damai. Walaupun demikian, secara individu beberapa orang yang setia kepada raja Sunda Galuh yang terbantai di lapangan bubat, memutuskan untuk membalas dendam secara sembunyi-sembunyi. Mereka kemudian membentuk satu kelompok penari tayub yang diberangkatkan ke Majapahit dengan sasaran bidik yang sudah jelas, yaitu Gajah Mada.

Gerakan senyap dan samar yang dilakukan orang-orang Sunda ini langsung menusuk ke lingkungan istana Majapahit. Persiapan yang sangat matang dan teliti adalah kunci keberhasilan gerakan tersebut. Setiap anggota kelompok ini sudah pasti mahir berbahasa Jawa dan menguasai kesenian Jawa. Pagelaran tari tayub pun di selenggarakan di dekat markas prajurit Majapahit, dengan tujuan untuk menggaet beberapa prajurut Majapahit pilihan, dan mengubahnya untuk dijadikan eksekutor lapangan yang nantinya akan memburu Gajah Mada. Kecantikan dan gemulainya gerakan penari sunda adalah senjata utama mereka.

Tujuan tersebut berhasil mereka capai. Seorang prajurit pilihan Majapahit berpangkat lurah, yang dulunya menjadi pengawal setia Gajah Mada, yang juga pemimpin prajurit pelindung istana kepatihan akhirnya masuk perangkap. Sampai tibalah saatnya sebuah rombongan kerajaan berangkat menuju ke Madakaripura untuk mengunjungi Gajah Mada. Saat itulah tujuan akhir dari gerakan tersebut harus tercapai.

Berhasilkah mereka membalaskan dendamnya terhadap Gajah Mada? Semuanya diceritakan di novel ini: Gajah Mada, Madakaripura Hamukti Moksa.

Jadilah penilai pertama!

  • Saat ini 0/5 bintang
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5


Gajah Mada, Perang Bubat

clock 22 Mei 2008 4:17 oleh author Agus Suhanto

Perang bubat adalah sebuah kontroversi. Benarkah perang itu ada? Terlepas dari kontroversi ini, novel ke empat Langit Kresna Haryadi yang berjudul "Gajah Mada - Perang Bubat" ini mengambil asumsi perang itu terjadi. Perang yang merupakan lembaran hitam dari sejarah kebesaran Majapahit. Perang yang merupakan lembaran hitam juga bagi karir politik mahapatih Gajah Mada. Perang yang akhirnya memaksa Gajah Mada turun dari kedudukannya sebagai mahapatih Majapahit.

Sumber adanya perang bubat diperoleh dari buku Pararaton, sebuah karya sastra yang berisi cerita peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit. Buku lain yang juga banyak menceritakan peristiwa sejarah pada masa yang sama, yaitu buku Negara Kertagama, tidak sekali pun menyebutkan adanya peristiwa perang bubat ini.

Kisah dalam novel ini dimulai pada titik waktu dua puluh tahun sejak Gajah Mada mengikrarkan sumpah Palapa-nya yang terkenal. Majapahit telah menjelma menjadi kerajaan besar yang menguasai nusantara dan perairannya. Dengan armada lautnya yang sangat besar, yang dipimpin oleh laksamana Nala, Gajah Mada telah berhasil mewujudkan cita-citanya mengajak kerajaan-kerajaan di Nusantara bersatu di bawah kekuasan Majapahit.

Alasan Gajah Mada mengajak kerajaan-kerajaan di seluruh nusantara bersatu salah satunya adalah untuk menggalang kekuatan melawan pasukan dari kerajaan Tar Tar yang hendak memperlebar wilayah kekuasaannya sampai ke arah selatan. Wilayah nusantara yang sebagian besar terdiri atas perairan mendorong Majapahit memperkuat armada lautnya. Armada laut inilah yang setiap hari berpatroli di dalam wilayah laut nusantara melindungi kapal-kapal dagang yang melintas, sekaligus membentengi wilayah nusantara dari kemungkinan serbuan bangsa Tar Tar.

Dari mulai Tumasek (Singapura), Tanjungpura, Bali, Dompo, hingga Seram seluruh penguasanya menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Majapahit. Tetapi di kala semua kerajaan yang letaknya relatif jauh sudah menyatakan tunduk, ada dua kerajaan yang sangat dekat bahkan seperti di halaman rumah sendiri, belum menyatakan tunduk. Dua kerajaan tersebut adalah Sunda Galuh yang berpusat di Galuh (sekarang berada di sekitar Ciamis), dan Sunda Pakuan yang terletak lebih ke arah barat.

Kerajaan Sunda Galuh saat itu dipimpin oleh seorang raja yang bernama prabu Lingga Buana. Di sebelah timur, wilayah Sunda Galuh berbatasan langsung dengan wilayah Majapahit di sepanjang sungai Pamali. Sedangkan di sebelah barat, wilayah Sunda Galuh berbatasan langsung dengan wilayah Sunda Pakuan di sepanjang sungai Citarum.

Pandangan Gajah Mada untuk sesegera mungkin menyatukan kedua kerajaan Sunda tersebut ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit, bertentangan dengan pandangan kalangan istana. Baik ibu suri Tribhuana Tunggadewi maupun Dyah Wyah berpendapat bahwa kerajaan Sunda adalah kerabat sendiri, karena apabila dilihat dari silsilah keluarganya, salah satu leluhurnya berasal dari bangsawan Sunda. Sementara sikap prabu Hayam Wuruk sendiri terlihat lebih mendukung kedua ibu suri tersebut daripada Gajah Mada.

Pada suatu waktu tibalah saatnya bagi prabu Hayam Wuruk untuk mencari seorang permaisuri yang akan mendampingi dirinya. Maka dikirimlah beberapa juru gambar untuk melukis putri-putri yang cantik dari kalangan kerajaan bawahan maupun kerajaan tetangga untuk kemudian diperlihatkan kepada sang prabu. Dengan harapan apabila ada salah satu gambar yang berkenan di hati sang prabu, maka tibalah saatnya bagi sang prabu untuk menjatuhkan pilihannya kepada putri yang beruntung tersebut.

Sudah sekian banyak juru gambar yang kembali membawa lukisannya, namun sang prabu Hayam Wuruk masih belum berkenan menjatuhkan pilihannya. Sampai tibalah saatnya dikirim juru gambar ke kerajaan Sunda Galuh untuk menggambar putri Dyah Pitaloka Citraresmi yang kabar kecantikannya sudah terkenal ke mana-mana. Sementara itu, Gajah Mada melihat adanya kesempatan untuk membawa kepentingannya sendiri ke dalam utusan juru gambar Majapahit ke Sunda Galuh. Kemudian Gajah Mada menyusupkan beberapa orang bawahannya untuk pergi bersama-sama ke kerajaan Sunda Galuh menyampaikan maksud Gajah Mada agar kerajaan Sunda Galuh segera menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Majapahit.

Sekembalinya utusan tersebut, prabu Hayam Wuruk ternyata berkenan dengan kecantikan putri Dyah Pitaloka dan berniat menjadikannya sebagai permaisuri. Maka diberangkatkan rombongan utusan kedua yang membawa berbagai macam keperluan untuk meminang putri tersebut sekaligus membicarakan kapan dan di mana pesta perkawinan antara raja dan putri akan dilangsungkan. Akhirnya disepakati bersama bahwa raja Lingga Buana, permaisuri, dan beberapa bangsawan istana akan berangkat ke Majapahit untuk mengantarkan putri Dyah Pitaloka sekaligus melangsungkan acara pesta perkawinan di ibu kota Majapahit. Maka pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah prabu Lingga Buana beserta rombongan ke Majapahit. Tidak terlalu banyak pasukan yang mengiringi mereka mengingat maksud dan tujuan sang prabu ke Majapahit adalah untuk menikahkan putrinya, Dyah Pitaloka. Perjalanan jauh mereka tempuh dari Galuh (Ciamis) menuju ke ibu kota Majapahit (Trowulan).

Sesampainya rombongan tersebut di lapangan bubat, tanpa terduga rombongan tersebut dicegat oleh utusan Gajah Mada yang menyampaikan maksud Gajah Mada agar putri Dyah Pitaloka diserahkan ke kerajaan Majapahit sebagai persembahan, tanda bahwa Sunda Galuh tunduk dibawah kekuasaan Majapahit. Prabu Lingga Buana merasa harga dirinya terinjak-injak dengan perlakuan Gajah Mada tersebut, namun sebagai seorang pemimpim yang arif sang prabu tidak bertindak gegabah untuk dengan serta merta mengadakan perlawanan di tempat. Namun kearifan hati sang prabu tidak diikuti oleh segenap anak buahnya. Dalam situasi demikian, setiap orang yang berada dalam rombongan tersebut pasti merasa marah dan dilecehkan. Satu lesatan anak panah, entah terlepas dari busur siapa melaju menerjang utusan Gajah Mada tersebut hingga ambruk. Suasana pun menjadi tidak terkendali.

Perang pun tidak terlelakkan lagi terjadi di lapangan bubat. Rombongan pasukan Sunda Galuh yang tidak siap berperang terpaksa harus menghunus pedang dan merentangkan gendewa menghadapi pasukan Majapahit yang juga sebenarnya tidak siap untuk berperang. Kalah jumlah dan berada dalam lokasi yang salah akhirnya seluruh anggota rombongan pasukan Sunda Galuh pun gugur di laparang bubat, termasuk prabu Lingga Buana dan permaisurinya. Putri Dyah Pitaloka pun akhirnya bunuh diri.

Jadilah penilai pertama!

  • Saat ini 0/5 bintang
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5


Gajah Mada, Hamukti Palapa

clock 15 Mei 2008 6:43 oleh author Agus Suhanto

"Untuk mewujudkan keinginanku atas Majapahit yang besar," ucap Gajah Mada dengan suara amat lantang. "Untuk mewujudkan mimpi kita semua, aku bersumpah akan menjauhi hamukti wiwaha sebelum cita-citaku dan cita-cita kita bersama itu terwujud. Aku tidak akan bersenang-senang dahulu. Aku akan tetap berprihatin dalam puasa tanpa ujung semata-mata demi kebesaran Majapahit. Aku bersumpah untuk tidak beristirahat. Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasek, samana ingsung amukti palapa."

Begitulah bunyi sumpah Gajah Mada pada saat dikukuhkan sebagai mahapatih Majapahit menggantikan Arya Tadah. Sumpah Hamuksi Palapa, yang sampai kini terkenal sebagai sumpah Palapa dianggap sebagai titik awal dari menyatunya wilayah yang hingga kini disebut dengan nusantara. Wilayah yang cukup luas, yang membentang dari Tumasek (Singapura) di Ujung Barat sampai dengan pulau Seram di ujung Timur.

Buku ketiga Langit Kresna Haryadi, bercerita seputar tindak-tanduk Gajah Mada menjelang diangkatnya beliau sebagai mahapatih. Mahapatih yang digantikan, Arya Tadah, telah memasuki usia yang sangat lanjut dan sering sakit-sakitan sehingga tidak mampu lagi mengemban tugas sehari-hari. Oleh karena hubungan yang sangat dekat dengan Gajah Mada, Arya Tadah dari semula telah merencanakan untuk menunjuk Gajah Mada sebagai penggantinya. Namun, dikala semuanya dirasa siap, Gajah Mada tidak serta merta mau menerima begitu saja penunjukkan tersebut. Masih ada satu tugas yang menunggu untuk dituntaskan, yaitu pemberontakan Keta dan Sadeng.

Walaupun usianya terbilang muda untuk menggantikan posisi sebagai Majapahit, namun tidak seorang pun yang meragukan pengabdian dan kesetiaan Gajah Mada terhadap raja dan negaranya. Dimulai dari tindakan heroiknya menyelamatkan sang prabu dari kejaran para pengikut pemberontak Ra Kuti, kemudian membalikkan keadaan dan mengembalikan sang prabu ke singgasananya. Atas kepemimpinan Gajah Mada pula, persaingan politik perebutan takhta antara dua satria pendamping para putri kedaton bisa diredam, sehingga pergantian kekuasaan setelah mangkatnya prabu Sri Jayanegara bisa berlangsung mulus.

Prabu Sri Jayanegara memang selamat dari kejaran Ra Kuti dan pengikut-pengikutnya. Namun, sembilan tahun kemudian, salah seorang Dharmaputra Winehsuka yang telah diampuni dari kesalahan akibat terlibat dalam pemberontakan tersebut, melakukan tindakan yang sama sekali tidak terduga: meracun sang prabu sampai mengakibatkan wafatnya beliau. Dalam novel kedua berjudul "Gajah Mada, Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara" diceritakan intrik politik yang terjadi setelah peristiwa tersebut.

Dalam buku-buku sejarah banyak disebutkan referensi bahwa pengganti raja Sri Jayanegara adalah Tribhuana Tunggadewi. Namun, Langit Kresna Haryadi memilih versi lain untuk diceritakan dalam novelnya. Kedua putri kedaton tersebut pada akhirnya menggelar pemerintahan bersama-sama. Jadi, baik Tribhuana Tunggadewi maupun Dyah Wyat memiliki kedudukan yang sama, yaitu sama-sama sebagai ratu Majapahit. Sedangkan pemegang kekuasaan kepatihan waktu itu masih berada di tangan Arya Tadah.

Mengenai Keta dan Sadeng, diceritakan bahwa kedua wilayah bagian Majapahit tersebut berniat memisahkan diri dari kerajaan Majapahit dan melakukan persiapan serius. Diantaranya adalah melakukan perekrutan besar-besaran terhadap warga sipil untuk dididik keprajuritan di tengah hutan Alas Larang. Tujuannya adalah memperkuat angkatan perang kedua wilayah tersebut, yang pada akhirnya akan dibenturkan terhadap kekuatan perang Majapahit.

Pada saat itu, Majapahit juga menjalin hubungan dengan kerajaan Swarnabhumi, di pulau Sumatra. Kedatangan raja Swarnabhumi – Adityawarman - ke Majapahit digambarkan menggunakan kapal perang berukuran besar yang belum ada tandingannya dari kesatuan pasukan laut Majapahit. Adityawarman sendiri adalah saudara sepupu mendiang prabu Sri Jayanegara, sekaligus sahabat yang cukup dekat dengan Gajah Mada. Penggambaran besarnya ukuran kapal perang dari Swarnabhumi agaknya dimaksudkan sebagai cikal bakal adopsi teknologi yang menjadikan besarnya armada laut Majapahit kelak ketika kampanye penyatuan nusantara dimulai.

Kegiatan saling intai antara telik sandi Majapahit dengan telik sandi Keta-Sadeng diceritakan dengan menarik sepanjang cerita. Telik santi Majapahit yang dimotori oleh kekuatan pasukan Bhayangkara jelas terlihat mendominasi jalannya perang psikologis. Gajah Mada berpendapat bahwa sebisa mungkin perang dengan Keta-Sadeng diselesaikan secara psikologis dengan mengadakan provokasi dan adu domba antar kekuatan internal Keta-Sadeng. Bahkan kalau perlu melakukan penculikan terhadap para pemimpin yang menggerakkan perang tersebut. Tujuan akhirnya adalah menyelesaikan konflik Keta-Sadeng dengan biaya kecil-kecilnya.

Dilihat dari kekuatan gelar pasukan, kekuatan Keta-Sadeng bukanlah apa-apa dibanding dengan kekuatan pasukan Majapahit. Namun, dibalik kekuatan fisik pasukan segelar sepapan yang belum sebanding dengan pasukan Gajah Mada, Keta-Sadeng dilindungi oleh kesatria mumpuni yang sakti mandraguna. Ksatria ini adalah mantan pelindung Raden Wijaya, raja Majapahit yang pertama. Nama ksatria tersebut adalah Wirota Wiragati, terkenal dengan kesaktiannya memiliki ajian sirep, ajian panglimunan, dan kekuatan untuk mendatangkan kabut yang bisa menyulitkan daya penglihatan pasukan mana pun.

Namun, dengan kecerdikan Gajah Mada yang disalurkan ke setiap elemen pasukan Bhayangkara yang disusupkan sebagai telik sandi ke wilayah Keta dan Sadeng, akhirnya tujuan Gajah Mada untuk mengakhiri perang Keta-Sadeng dengan biaya minimal akhirnya tercapai.

Setelah menuntaskan tugas pemadaman pemberontakan Keta-Sadeng, akhirnya Gajah Mada siap untuk didaulat menjadi mahapatih menggantikan Arya Tadah. Dalam sidang penunjukkannya sebagai mahapatih itulah Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal: Hamukti Palapa.

Jadilah penilai pertama!

  • Saat ini 0/5 bintang
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5


Gajah Mada, Bergelut Dalam Kemelut Takhta dan Angkara

clock 08 Mei 2008 3:11 oleh author Agus Suhanto

Buku setebal 500-an halaman karangan Langit Kresna Haryadi ini bercerita seputar pergantian kekuasaan dari Raja Majapahit ke-2, Sri Jayanegara, selepas mangkatnya beliau. Sesuai dengan judulnya, buku ini memfokuskan kepada kemelut yang terjadi di saat terjadinya pergantian kekuasaan. Di mana-mana, pergantian kekuasaan selalu ditandai dengan suasana panas. Manuver orang-orang yang berada di sekitar pusat kekuasaan  dalam mencapai tujuannya juga tergambar dengan jelas sepanjang cerita dalam buku tersebut.

Sebagaimana kita ketahui bersama, kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya, yang setelah menjadi raja bergelar Kertarajasa Jayawardhana. Dari hasil perkawinan dengan lima orang istrinya, Raden Wijaya memiliki tiga orang anak. Salah satunya adalah seorang putra yang bernama Kalagemet. Kalagemet memiliki dua saudara perempuan bernama Sri Gitarja dan Dyah Wyat.

Kalagemet adalah seorang putra mahkota yang kemudian menggantikan kedudukan Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit ke-2. Setelah menjadi raja, Kalagemet lebih dikenal sebagai Sri Jayanegara.

Pada masa pemerintahan Sri Jayanegara, Majapahit dilanda berbagai pemberontakan. Salah satu yang terparah adalah pembrontakan Ra Kuti. Pemberontakan ini memaksa Raja dan keluarganya mengungsi ke pegunungan kapur, sebelum pasukan khusus Bhayangkara berhasil membalikkan keadaan dan menumpas habis Ra Kuti dan pengikut-pengikutnya. Hanya satu kalangan dekat pemberontak Ra Kuti yang diampuni, yaitu Ra Tanca.

Namun langkah pengampunan Ra Tanca berakibat fatal. Justru, dalam salah satu kesempatan yang ada Ra Tanca memberikan racun yang mematikan kepada raja Sri Jayanegara yang mengakibatkan wafatnya beliau. Ra Tanca sendiri juga akhirnya tewas di tangan Gajah Mada, yang pada saat itu masih menjabat sebagai patih Daha.

Wafatnya Jayanegara menimbulkan polemik yang cukup rumit karena beliau belum memiliki keturunan. Sesuai dengan aturan silsilah kerajaan, yang berhak menggantikan Sri Jayanegara sebagai raja adalah saudaranya, salah satu dari putri Sri Gitarja dan Dyah Wyat. Sebelum pilihan dijatuhkan ke salah satunya, kekuasaan masih dipegang di tangan Ratu Gayatri, istri mendiang Raden Wijaya (raja Majapahit pertama). Hal ini karena adanya potensi konflik yang dianalisis oleh Gajah Mada apabila penunjukan kekuasaan dilakukuan secara tergesa-gesa. Analisis ini juga didorong oleh adanya beberapa peristiwa pembunuhan yang terjadi menjelang pergantian kekuasaan.

Analisis Gajah Mada berpusat pada kenyataan bahwa pengganti Sri Jayanegara sebagai raja Majapahit adalah seorang perempuan. Menilik pada sejarah, sebetulnya tidak menjadi masalah seorang perempuan menjadi Raja. Bukti nyatanya adalah putri Shima yang berhasil menegakkan kerajaan walaupun dia berjenis kelamin perempuan. Walaupun demikian, Gajah Mada tidak bisa membuat penyamarataan kondisi antara putri Shima dengan dua orang putri yang sama-sama berpotensi menggantikan Sri Jayanegara sebagai ratu Majapahit.

Gajah Mada berkesimpulan bahwa memang tidak masalah seorang perempuan menjadi raja asalkan didampingi oleh figur yang kuat. Nah, figur kuat ini berasal dari laki-laki yang nantinya mendampingi mereka sebagai suami.

Keluarga kerajaan telah memilih para ksatria sebagai pendamping kedua putri tersebut. Sri Gitarja dijodohkan dengan raden Cakradara. Sedangkan Dyah Wyat dijodohkan dengan raden Kudamerta. Keduanya adalah penguasa-penguasa wilayah setingkat kabupaten yang menjadi bagian dari Majapahit. Bersamaan dengan wafatnya raja Sri Jayanegara, kedua putri kerajaan tersebut juga dinikahkan dengan pasangannya.

Pada malam di saat raja Sri Jayanegara disemayamkan, yang bersamaan dengan saat pernikahan kedua putri kerajaan, di seputar istana kerajaan terjadi beberapa pembunuhan yang mengarah kepada orang-orang dekat pendukung Kudamerta, pendamping putri Dyah Wyat. Peristiwa ini diketahui oleh telik sandi Bhayangkara yang akhirnya melaporkannya kepada patih Gajah Mada. Nah, berawal dari sinilah potensi konflik perebutan kekuasaan dimulai. Gajah Mada kemudian melaporkan temuan tersebut kepada ratu Gayatri.

Buku ini bercerita tentang manuver-manuver politik di sekitar konflik tersebut. Aspek sejarah hanya menjadi latar belakang yang menempatkannya di satu titik waktu tertentu. Gaya cerita buku ini mirip dengan cerita detektif Sherlock Holmes. Namun, justru di sinilah menariknya. Biasanya kita cepat merasa bosan membaca buku paparan sejarah yang hanya menyajikan fakta-fakta. Namun, apabila sejarah tersebut diolah dan dibungkus ulang dengan cerita detektif, tentu menjadi lain ceritanya.

Di bagian akhir buku ini potongan-potongan yang tersaji dalam bab-bab sebelumnya dijadikan satu menjadi sebuah akhir yang memang persis cerita detektif. Ada siapa di balik motif apa, kegiatannya dan akibat yang ditimbulkannya dipaparkan dengan tuntas. Peran Gajah Mada sendiri dalam buku ini adalah figur sentral, atau tokoh utama yang berkepentingan untuk mengamankan keluarga Raja dan masa depan Majapahit. Gajah Mada berperan mengkoordinasikan semua komponen kekuasaan Majapahit untuk mencegah api konflik tersebut membesar yang akhirnya akan membahayakan kerajaan. Sejarah menuliskan pula pada akhirnya Sri Gitarja lah yang menjadi pengganti Sri Jayanegara. Dalam buku-buku sejarah, kita lebih mengenalnya sebagai Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani.

Jadilah penilai pertama!

  • Saat ini 0/5 bintang
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5


Gajah Mada, Pemberontakan Ra Kuti

clock 01 Mei 2008 1:09 oleh author Agus Suhanto

Gajah Mada adalah seorang mahapatih kerajaan Majapahit yang didaulat oleh para ahli sejarah Indonesia sebagai seorang pemimpin yang telah berhasil menyatukan nusantara. Sumber-sumber sejarah yang menjadi bukti akan hal ini banyak ditemukan diberbagai tempat. Di antaranya di Trowulan, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang dahulu pernah menjadi ibu kota kerajaan Majapahit. Kemudian di Pulau Sumbawa, di mana sebuah salinan kitab Negara Kertagama di temukan. Prasasti dan candi adalah peninggalan-peninggalan masa lalu yang menjadi bukti lain pernah jayanya kerajaan Majapahit di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada.

Sebuah novel berseri tentang sepak terjang Gajah Mada dituliskan oleh Langit Kresna Haryadi. Novel-novel ini bukanlah fakta sejarah, melainkan cerita fiksi belaka. Namun, cerita fiksi yang dibuat, ditempatkan dalam kerangka waktu, peristiwa, dan tempat di mana kerajaan Majapahit pernah jaya bersama mahapatih Gajah Mada. Kelima novel tersebut membentuk cerita berseri yang dimulai dari masa awal pengabdian Gajah Mada sebagai komponen prajurit utama Majapahit sampai dengan meninggalnya beliau dalam pertapaannya di Madakaripura. Kelima novel tersebut akan saya ceritakan secara singkat dalam blog ini sebagai sharing dan review saya atas hasil karya sastra tersebut.

Saya telah membaca kelima novel tersebut dengan ketertarikan yang cukup tinggi. Hal ini tidak lain karena kepiawaian Langit Kresna Haryadi dalam membawakan cerita yang bisa memadukan berbagai aspek dan menjaga ritme cerita agar tidak terasa membosankan. Membaca fakta sejarah bagi orang kebanyakan bukanlah kegiatan yang dirasa menarik. Namun apabila sejarah tersebut dijadikan sebuah cerita di mana di dalamnya terdapat intrik-intrik politik, nafsu angkara, cinta asmara, kepahlawanan, kejayaan, dan teka-teki maka membaca sejarah seperti melihat sebuah film yang 'hidup' di mana kita bisa mengikutinya dari awal sampai akhir tanpa rasa bosan sedikit pun.

Buku yang pertama hanya berjudul Gajah Mada. Namun, isinya lebih berfokus kepada peristiwa pemberontakan yang paling berdarah pada masa pemerintahan Sri Jayanegara, raja Majapahit yang kedua. Pemberontakan yang dilakukan oleh Dharmaputra Winehsuka di bawah pimpinan Ra Kuti - rekan Gajah Mada dalam keprajuritan - sampai mampu melengserkan sang prabu Jayanegara dari singgasananya untuk sementara dan mengungsi ke pegunungan kapur utara, sebuah daerah yang diberi nama Bedander.

Ra Kuti, Ra Tanca, Ra Banyak, Ra Wedeng, dan Ra Yuyu pada mulanya adalah prajurit-prajurit yang dianggap berjasa kepada negara. Oleh karenanya sang prabu Jayanegara memberikan gelar kehormatan berupa Dharmaputra Winehsuka kepada kelima prajurit tersebut. Entah oleh sebab apa, mereka, dipimpin oleh Ra Kuti melakukan makar mengajak pimpinan pasukan Jala Rananggana untuk melakukan pemberontakan terhadap istana. Pada waktu itu Majapahit memiliki tiga kesatuan pasukan setingkat divisi yang dinamakan Jala Yudha, Jala Pati, dan Jala Rananggana. Masing-masing kesatuan dipimpin oleh perwira yang berpangkat tumenggung.

Gajah Mada, pada waktu itu masih menjadi seorang prajurit berpangkat bekel. Pangkat bekel dalam keperajuritan pada saat itu setingkat lebih tinggi dari lurah prajurit, namun masih setingkat lebih rendah dari Senopati. Pangkat di atas senopati adalah tumenggung, yang merupakan pangkat tertinggi.

Gajah Mada membawahi satu kesatuan pasukan setingkat kompi yang bertugas menjaga keamanan istana. Nama pasukan ini adalah Bhayangkara. Jumlahnya tidak lebih dari 100 orang, namun pasukan Bhayangkara ini adalah pasukan khusus yang memiliki kemampuan di atas rata-rata prajurit dari kesatuan mana pun.

Kisah novel ini dimulai dari munculnya informan bertopeng yang memberitahu Gajah Mada akan adanya bahaya yang akan datang menyerang istana pada pagi hari. Tidak dijelaskan siapa dan atas motif apa informan ini memberikan informasi tersebut kepada Gajah Mada. Satu hal yang cukup jelas bahwa informan tersebut mengetahui rencana makar dan kapan waktu dilakukan makar tersebut menandakan bahwa informan tersebut memiliki hubungan yang cukup dekat dengan pihak pemberontak.

Mendapatkan informasi tersebut Gajah Mada segera melakukan cek dan ricek ke segenap jajaran telik sandi yang dimiliki pasukan Bhayangkara, tidak ketinggalan terhadap telik sandi pasukan kepatihan. Saat itu mahapatih masih dijabat oleh Arya Tadah, yang memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Gajah Mada.

Tidak ketinggalan, Gajah Mada juga segera melakukan langkah koordinasi kekuatan terhadap tiga kesatuan pasukan utama Majapahit dengan cara menghubungi masing-masing pimpinannya. Tidak mudah bagi seorang bekel untuk bisa melakukan hal ini karena ia harus bisa menemui para Tumenggung yang berpangkat dua tingkat di atasnya. Namun, Arya Tadah yang tanggap akan adanya bahaya, telah membekali Gajah Mada dengan lencana kepatihan, sebuah tanda bahwa Gajah Mada mewakili dirinya dalam melaksanakan tugas tersebut.

Dua dari tiga pimpinan pasukan berhasil dihubungi. Namun keduanya menyatakan sikap yang berlainan. Pasukan Jala Yudha bersikap mendukung istana, sedangkan pasukan Jala Pati memilih bersikap netral. Pimpinan pasukan Jala Rananggana tidak berhasil ditemui karena pada saat itu kesatuan pasukan tersebut telah mempersiapkan diri di suatu tempat yang cukup jauh dari istana untuk mengadakan serangan dadakan keesokan harinya.

Yang selanjutnya terjadi adalah perang besar yang melibatkan ketiga kesatuan utama pasukan Majapahit. Akhirnya peperangan tersebut dimenangkan oleh pihak pemberontak, dan memaksa sang Prabu Jayanegara mengungi ke luar istana dilindungi oleh segenap kekuatan pasukan Bhayangkara.

Namun, tidak seluruh anggota pasukan Bhayangkara memihak raja. Hal ini tentu menyulitkan tindakan penyelamatan sang prabu karena setiap saat di mana saja, musuh dalam selimat bisa bertindak mencelakai sang prabu. Hal ini yang mendorong Gajah Mada melakukan tindakan penyelamatan yang rumit sampai membawa sang prabu ke Bedander, sebuah daerah di pegunungan kapur utara. Dengan kecerdikannya, memanfaatkan kekuatan dan jaringan yang dimiliki, akhirnya Gajah Mada berhasil mengembalikan sang prabu ke istana.

Jadilah penilai pertama!

  • Saat ini 0/5 bintang
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5


Berawal Dari BlogEngine.NET

clock 19 April 2008 0:41 oleh author Agus Suhanto

BlogEngine.NET adalah sebuah mesin blog yang running di atas platform Microsoft .NET Framework 2.0 ke atas. Engine ini merupakan salah satu mesin blog yang cukup terkenal dan banyak dipakai di kalangan blogger, terutama kalangan developer dan kalangan IT pada umumnya. Dari segi fitur, BlogEngine.NET boleh dibilang setara dengan WordPress, sebuah mesin blog yang terkenal terlebih dahulu.

Sebuah mesin blog yang standard, pada dasarnya memiliki kemampuan atau fitur yang hampir sama. Fitur utama yang pasti ada adalah menampilkan atau mempublikasikan posting dari pemilik atau pengarangnya. Posting adalah tulisan pemilik blog yang dipublikasikan di internet dengan maksud atau tujuan tertentu. Pemilik blog bisa menuliskan posting tentang apa saja dan menampilkannya ke dalam blog dengan urutan sesuai dengan waktu posting tersebut ditulis.

Fitur utama blog tersebut biasanya didukung oleh fitur-fitur tambahan seperti kategorisasi posting, yaitu penggolongan posting ke dalam kategori-kategori yang didefinisikan oleh pemilik. Selain kategori ada pula konsep tagging, semacam kategorisasi tetapi lebih ditujukan untuk memberikan keywords kepada posting sehingga bisa digunakan oleh mesin pencari web (crawler) dalam mengoptimisasi hasil pencarian di website pemilik blog.

Fitur tambahan lain adalah searching, archiving, blogroll, dan RSS feed. Searching adalah fasilitas mesin blog yang digunakan untuk mencari posting yang sesuai dengan keywords tertentu. Archiving adalah penggolongan posting berdasarkan satuan waktu tertentu, biasanya berupa bulan dan tahun. Blogroll adalah fitur tambahan blog yang berisi link ke blog-blog lain yang sengaja dihubungkan oleh pemilik blog berdasarkan kriteria tertentu. Sedangkan RSS feed adalah fitur mesin blog yang disediakan bagi pembaca selain mata manusia agar dapat mengambil content dari posting-posting yang ada dan mendownloadnya ataupun mempublikasikannya dalam bentuk lain.

BlogEngine.NET memiliki semua fitur standar blog tersebut, sehingga rasanya tepat sekali apabila BlogEngine.NET dikatakan telah memenuhi standard sebagai mesin blog. Kelebihan BlogEngine.NET, sebagaimana yang diutarakan beberapa pemakainya diantaranya adalah kecepatannya dalam menampilkan isi blog.

Walaupun demikian, seperti kata pepatah: tidak ada gading yang tak retak. Disamping fitur-fitur unggulan dan kelebihan yang dimiliki, beberapa orang masih merasa bahwa fitur standard yang ada pada BlogEngine.NET dan mesin blog standard yang lainnya masih belum memenuhi kebutuhannya. Salah satu kebutuhan yang cukup banyak dicari adalah kemampuan multi bahasa, tidak saja terhadap mesin blog-nya, tetapi juga terhadap content-nya. Dengan kata lain, pemilik blog bisa seakan-akan memiliki beberapa blog dalam bahasa yang berlainan, namun tetap dalam satu domain yang sama dan satu administrasi yang terintegrasi.

Kebutuhan lain adalah adanya hirarki kategori. Pada mesin blog standard, kategori biasanya flat, atau satu level. Untuk pemilik blog yang menginginkan blog-nya bisa berisi apa saja yang mungkin saja tidak berkaitan satu sama lain, atau tidak berkaitan antara satu kategori dengan kategori yang lain, biasanya menginginkan fitur hirarki kategori ini. Dengan adanya hirarki kita bisa memiliki satu kelompok kategori yang berisi posting yang berhubungan dengan pribadi dan hobi, dan kita juga bisa memiliki satu kelompok kategori yang berisi posting tentang kontribusi kita dibidang yang kita tekuni.

Satu lagi kebutuhan yang cukup banyak dicari adalah grouping atau pengelompokan posting yang bersambung. Seorang pemilik blog bisa saja berniat untuk menulis tentang suatu topik yang cukup panjang sehingga diperlukan beberapa posting untuk membahasnya. Satu posting terkait dengan posting yang lainnya sehingga pembaca blog bisa mengikuti topik tersebut secara bersambung dari awal sampai akhir. Baik kategori maupun tag tidak cocok digunakan untuk keperluan ini, sehingga kita memerlukan pengelompokan lain untuk keperluan ini.

Beberapa kebutuhan tersebut bisa ditambahkan ke dalam mesin blog standard yang sudah ada, dengan syarat kita memahami isi dari sebuah mesin blog secara teknis. Untuk keperluan tersebut syaratnya adalah source code mesin blog tersebut tersedia secara bebas. BlogEngine.NET adalah sebuah produk open source, sehingga source code-nya pun tersedia secara bebas.

Melalui rangkaian tulisan ini penulis bermaksud mengimplementasikan kebutuhan-kebutuhan tersebut menjadi fitur tambahan BlogEngine.NET. Setelah melakukan analisis yang cukup mendalam, penulis memutuskan untuk mengubah nama dari hasil akhir produk ubahan tersebut menjadi MultiLangBlogEngine. Pemilihan nama ini menyesuaikan dengan fitur unggulannya yaitu kemampuan multi bahasa pada content dari blog.

Dengan demikian, MultiLangBlogEngine adalah produk turunan dari BlogEngine.NET dengan fitur-fitur tambahan: kemampuan multi bahasa pada content, adanya hirarki kategori, dan adanya konsep grouping untuk posting berseri.

Jadilah penilai pertama!

  • Saat ini 0/5 bintang
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5


Cari

Kalender

<<  Juli 2008  >>
MiSeSeRaKaJuSa
293012345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829303112
3456789

Arsip

Tag

Kategori


Blogroll

Kosong


Deklarasi

Semua isi dari web ini adalah pandangan pribadi saya dan tidak ada kaitannya dengan perusahaan tempat saya bekerja